Jumat, 13 Agustus 2010

Peran Backup Singers

Posting kali ini saya akan membahas masalah backup singer, penyanyi latar, atau biasa juga disebut sebagai backing vocal. Kebetulan acara tahunan Urban Jazz Crossover (UJC) akan segera dimulai bulan depan, dan saya sudah sejak tahun lalu bergabung dengan UJC team, bermain alto saxophone, dan memegang urusan backup singers. Saya belajar banyak dari pengalaman ini. Berikut ini akan saya bagi beberapa hal mengenai backup singing.

Pertama, backup singers sering dipandang sebelah mata oleh banyak orang. Penyebabnya karena backup singers, berdua, bertiga, bahkan berempat, bersuara sebagai grup dan bukan solis. secara visualpun backup singers selalu berdiri di belakang, kadang berseragam, dan melakukan gerakan yang terkoreografi. Wajar memang jika banyak yang menganggap perannya tidak signifikan. Saya ingin memberikan anda sudut pandang yang berbeda.

Bagian yang dinyanyikan backup singers adalah bagian dari aransemen musik secara keseluruhan, dan setiap bagian tersebut, setiap nada, setiap pecahan kord, voicingnya, timbrenya, semua dipikirkan secara serius oleh siapapun yang mengaransir. Beberapa tahun yang lalu, saat saya masih sering bermain saxophone untuk band Sore, saya melihat mereka bahkan menulis partitur untuk backup singers mereka, yang kebetulan semuanya anggota paduan suara profesional sehingga memiliki kemampuan membaca notasi yang baik. Untuk UJC, selain aransemen backup vocal dalam bentuk melodi, timbre juga diatur sesuai kebutuhan. Ada saatnya kami menyanyi dengan tone yang full, ada juga saatnya tone yang husky atau mendesah. Ada saatnya menggunakan vibrato, ada saatnya tidak, dsb. Pada lagu “Tentang Petang” oleh Tika & The Dissidents, backup vocal sengaja bernyanyi seperti hantu-hantu yang menggoda.

Pola pikir yang digunakan saat menyanyikan backup sama seperti pola pikir paduan suara, yaitu mengutamakan suara secara kesatuan atau menjaga volume dan tone masing-masing. Saya termasuk vokalis yang memiliki power yang cukup kuat, sehingga untuk berperan sebagai backup, saya harus bisa menahan power saya agar tidak menonjol sendiri, apalagi sampai menutup lead vocalist. Di sini juga terlihat betapa pentingnya teamwork. Seorang backup singer harus bisa bersikap rendah hati dan mau bernyanyi di belakang penyanyi lain dan memberi dukungan kepadanya. Apapun peran yang dijalani, bunyi musik secara keseluruhan adalah prioritas.

Untuk harmonisasi, tidak mudah menyanyikan part backup, karena seringkali yang dinyanyikan bukanlah lead melodi melainkan elemen voicing dari melodi, sehingga yang dinyanyikan adalah berjarak 3rd, 5th, atau chords tones lain relatif kepada melodi dan harmoni lagu. Selain itu bagian-bagian yang dinyanyikan backup singers tidak di semua tempat melainkan di bagian tertentu saja, misalnya sedikit di verse, lalu di tengah bridge, dan call and response pada chorus, sehingga backup singer perlu mengingat lebih serius bagian mereka.

Tidak jarang lead vocalist juga bergantung kepada backup singers untuk mengingat part mereka. Bisa saja jika backup singers salah dalam menyanyikan bagian mereka, lead vocalist juga ikut salah karena bagian yang dimaksud bergantung kepada cue atau tanda dari backup vocals. Dalam beberapa kesempatan saya memperhatikan lead singer menengok ke arah backup untuk menanyakan bagian, apakah sesudah ini reff, atau ke bridge atau bagaimana.

Ada juga saatnya musisi dalam band ikut menjadi backup singer, contohnya dalam band The Beach Boys yang semua anggotanya ikut menyanyi. Contoh lain adalah John Frusciante dari RHCP menyanyikan seluruh bagian backup vocal untuk RHCP.

Demikian sedikit tulisan tentang backup singers ini, semoga bisa sedikit banyak menambah warna dalam apresiasi musik kita.

Beberapa artis internasional yang memulai karirnya sebagai backup singer: Beck, Chaka Khan, Elton John, Patti LaBelle, Bette Midler, Sting. Untuk artis Indonesia sendiri ada Reza Artamevia, Dira Sugandi, Mulan Jameela, dan Iwan Abdie.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar